Rektor Unsultra, Prof. Dr. Ir. Andi Bahrun saat menyerahkan piagam penghargaan kepada narasumber Prof. Dr. Ir. Abrar Saleng, SH.,MH dalam Kuliah Tamu dengan tema Pertambangan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang digelar di WTC Unsultra, Kamis (20/10/2022)

Potretterkini.id, KENDARI– Daerah Sulawesi Tenggara memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah ruah. Sehingga, saat ini sektor pertambangan banyak di kelolah. Hanya saja pengelolaan sektor pertambangan tersebut, masih banyak dikelola oleh pihak luar.

Untuk itu, Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) melakukan terobosan untuk meningkatkan kualitas para mahasiswa dengan menggelar Kuliah Tamu dengan tema Pertambangan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang digelar di WTC Unsultra, Kamis (20/10). Tak tanggung- tanggung, dalam kegiatan itu, pemateri yang dihadirkan merupakan Guru Besar Hukum Pertambangan Prof. Dr Ir Abrar Saleng SH MH dari Universitas Hasanudin (Unhas).

Rektor Unsultra Prof. Dr Ir Andi Bahrun, M.Sc., Agric, mengatakan, dengan sumber daya alam melimpah yang dimiliki oleh Sultra seharusnya masyarakat daerah bisa sejahtera, namun faktanya masyarakat tidak menikmatinya seperti yang diharapkan. Oleh karena itu tugas perguruan tinggi menyediakan orang-orang cerdas dan mempersiapkan SDM yang kelak akan mengelola sumber daya alam yang dimiliki agar bernilai tambah untuk kesejahteraan.

“Ini merupakan tanggung jawab kita dan sekarang kewajiban kami adalah mempersiapkan orang-orang cerdas. Dan saat ini hal itu sudah dilakukan dengan membuka program studi pertambangan dan geologi. Namun hal ini tidak cukup kita juga harus menyiapkan mereka agar menjadi SDA yang berkualitas dan bukan menjadi penonton namun memiliki skill dan kemampuan berbahasa,” ujarnya.

Andi berharap, pihak-pihak investor  yang mengelola sumber daya alam Sultra itu, mampu mengalokasikan sebagian keuntungan dari CSR-nya (Corporate Social Responsibility) terhadap peningkatan perguruan tinggi. Khususnya terkait bantuan beasiswa, pengelolaan infrastruktur terutama laboratorium dan fasilitas penunjang perkuliahan apalagi ada aturan yang mengikat tentang hal tersebut.

“Sehingga kita mempunyai representatif untuk pertambangan, seperti penyediaan infrastrukur dalam hal ini laboratorium khusus analisis pertambangan, sehingga dalam melakukan praktik kita tidak perlu lagi keluar untuk menganalisisnya. Selain itu juga, tidak menutup kemungkinan dengan sumber daya yang kita miliki pihak yayasan bisa membuka usaha pertambangan,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Ir. Abrar Saleng mengatakan, pada undang-undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 3 itu seharusnya masyarakat berdaulat atas kekayaan alam dan pengelolanya. Tetapi di sisi lain secara realitas masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk mengelola untuk, sehingga perlu mengundang investor. Namun mereka tidak boleh lebih banyak mendapatkan daripada orang yang ada di sekitar tambang.

Lanjutnya, oleh karena itu pemerintah harus bertanggung jawab memberikan regulasi atau pengaturan, bagaimana orang Sulawesi Tenggara (Sultra) bisa merasakan manfaat dari pengelolaan sumber daya alam. Kerena ketika SDA Sultra telah habis,masyarakat dan masyarakat tidak pernah merasakannya tentu ini tak boleh terjadi. Karena itu pemerintah harus segera memperbaiki regulasi yang ada.

“Masyarakat Sultra, terutama yang berada di perguruan tinggi mestinya mampu menangkap peluang ini, karena mereka memiliki ilmu teknologi serta  pengetahuan dan harusnya kita yang mengembangkannya. Untuk itu, jangan pernah berpuas bahwa ada investor yang masuk, karena tidak ada jaminan bahwa ketika sumber daya alam habis kita akan bahagia. Karena itu kita harus memiliki pengetahuan dan kemampuan, ” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *