Rektor, Prof. Dr. H. andi bahrun, M.Sc., agric., saat menerima kembali mahasiswa yang mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) 2.

KENDARINEWS.COM–Rektor Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), Prof. Dr. H. Andi Bahrun, M.Sc., Agric., menerima kembali mahasiswa yang mengikuti pertukaran mahasiswa merdeka (PMM) 2. Program tersebut merupakan implementasi dari merdeka belajar kampus merdeka (MBKM)

Daat ditemui Kendari Pos, Prof. Andi Bahrun mengatakan bahwa PMM 1 sudah dilaksanakan sebelumnya. Saat ini lanjutan dari program sebelumnya (PMM 2). Dalam MBKM mahasiswa dituntut mengambil kuliah di universitas lain. PMM 2 juga untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas mahasiswa.

“Kami senantiasa bersyukur kepada Allah SWT dan apresiasi kepada dua mahasiswa yang telah tuntas menyelesaikan program PMM 2 selama satu semester. Perlu diketahui dua mahasiswa kami berhasil menjadi kepala suku dan wakil suku dari jumlah peserta 72 orang yang merupakan utusan 34 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dari seluruh Indonesia di Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon,” terangnya.

Dijelaskan bahwa terpilihnya salah satu mahasiswa Unsultra menjadi kepala suku dan wakil kepala suku pada PMM 2, merupakan suatu kebanggaan sekaligus memberikan semangat optimis bagi Unsultra untuk terus membina dan mengembangkan jiwa-jiwa kepemimpinan dan entrepreneur mahasiswa secara berkelanjutan agar mahasiswa dan lulusan Unsultra menjadi pemimpin handal dan berdaya saing.

“Mulai dari pertukaran mahasiswa, magang, mahasiswa mengajar, asistensi mengajar, kegiatan kewirausahaan, membangun desa atau kuliah kerja nyata tematik, penelitian, pengabdian masyarakat dan praktisi mengajar. Hal ini dilakukan untuk mendidik dan menjadikan mahasiswa dan lulusan yang adaptif, inovatif, kolaboratif dan memiliki kemampuan IT yang mumpuni,” ungkapnya.

Mantan Ketua Universitas Terbuka Kendari ini, juga menuturkan bahwa mahasiswa Unsultra tidak hanya cepat mendapatkan pekerjaan dengan gaji layak. Tetapi mereka bisa bekerja secepat mungkin walaupun masih berstatus mahasiswa. Oleh karena itu, selain orientasi kurikulum dan perbaikan kualitas pembelajaran, Unsultra juga terus berupaya mendorong dan melakukan pembinaan kemahasiswaan terutama terkait pendidikan karakter, kepemimpinan, public speaking, kewirausahaan, kemampuan berbahasa asing serta pembinaan minat dan bakat. “Semua ini perlu dilakukan demi mewujudkan mahasiswa yang berkompeten dalam bidang keilmuannya,” bebernya.

Selaku rektor, ia berharap kegiatan PMM tersebut terus dilanjutkan karena sungguh besar manfaat bagi mahasiswa tidak hanya merasakan atmosfer perkuliahan dan dapat menyelesaikan mata kuliah 20 SKS di luar kampusnya, tetapi juga mahasiswa banyak memperoleh pengalaman dan wawasan luas terkait kehidupan berbangsa dan bernegara, keberagaman suku, ras dan budaya serta pentingnya rasa persaudaraan, persatuan dan kesatuan.

“Kita berharap semakin banyak mahasiswa Unsultra yang dapat mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam program PMM dan berbagai implementasi program MBKM dalam negeri bahkan kita memprogram pertukaran mahasiswa internasional. Dimana sejak tahun lalu Unsultra sudah menggelorakan Unsultra In Global Action, Dream To Become A Future University,” harapannya.

Baharudin Sukirno Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsultra mengungkapkan bahwa dirinya berharap program pertukaran mahasiswa tersebut dapat terus berlanjut ke generasi selanjutnya. “Kami pun berharap adanya peningkatan kualitas penyelenggaraan program PMM agar MBKM ini dapat menghasilkan output yang lebih baik lagi. Tentu kami juga berharap semoga semakin banyak mahasiswa Unsultra yang mendapat kesempatan mengikuti dan berpartisipasi pada program PMM ini ataupun program MBKM lainnya,” jelasnya.

Wa Ode Sitti Halifa Melina, mahasiswa Fakultas Pertanian Unsultra menuturkan, kesan menjadi kepala suku dan wakil kepala suku dengan perasaan suka rela dan juga menjadi sebuah kesenangan dalam memimpin membuat semua tugas dan tanggung jawab menjadi mudah. Apalagi dengan 72 kepala yang tentu memiliki pemikiran berbeda – beda adalah menjadi tugas untuk bersama sama membawa teman-teman pada pemikiran yang sama dengan tujuan yang satu, kerja sama dan gotong royong dalam hal apapun. Sehingga bisa menciptakan keharmonisan di antara Mahasiswa PMM.

“Semoga program tersebut dapat terus berlanjut. Karena sangat bermanfaat bagi mahasiswa,” tandasnya.
(win/kn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *